Di era digital, sosial media bukan lagi sekadar tempat berbagi foto atau hiburan singkat. Ia telah menjelma menjadi ruang publik baru, di mana suara-suara masyarakat yang dulu terpinggirkan kini bisa menggema lebih luas. Fenomena ini tampak jelas ketika isu-isu terkait kebijakan pemerintah, kontroversi DPR, hingga kasus yang menyeret aparat kepolisian menjadi trending di jagat maya.
Sosial media memungkinkan masyarakat untuk bersuara tanpa harus turun langsung ke jalan. Dalam hitungan detik, sebuah unggahan dapat menyebar ke jutaan orang, memantik diskusi, bahkan menjadi tekanan moral bagi penguasa. Misalnya, ketika muncul isu mengenai isu tunjangan DPR melejit yang dianggap merugikan rakyat, warganet segera ramai-ramai mengkritik di Twitter, Instagram, hingga TikTok. Suara kolektif ini kemudian sering bertransformasi menjadi aksi nyata: demonstrasi di berbagai kota.
Di sisi lain, tragedi Affan sang ojol yang tertabrak barakuda kepolisian juga kerap menjadi sorotan besar berkat sosial media. Banyak kasus yang mendapat perhatian luas setelah publik menggaungkannya dengan tagar. Media arus utama pun akhirnya ikut meliput karena tidak bisa mengabaikan derasnya gelombang opini publik.
Kekuatan sosial media ini sekaligus menjadi alat kontrol sosial terhadap DPR dan aparat penegak hukum. Ketika masyarakat merasa wakil rakyat tidak menjalankan fungsi sebagaimana mestinya, kritik di sosial media hadir sebagai bentuk pengawasan alternatif. Netizen membongkar, membandingkan, bahkan mencatat jejak digital perilaku pejabat. Hasilnya, DPR dan polisi tidak lagi bisa bekerja di ruang gelap—setiap langkah mereka kini diawasi jutaan mata virtual.
Gelombang demo yang kini banyak dipantik dari sosial media menunjukkan satu hal, bahwa rakyat sudah menemukan cara baru untuk bersuara. Ruang digital menjadi “lapangan awal” di mana ide, kemarahan, dan harapan dikumpulkan. Dari sini kita bisa melihat bahwa sosial media bukan hanya hiburan, tapi senjata sosial yang mampu menggerakkan massa, mengawasi kekuasaan, dan memperjuangkan keadilan.
Namun, fenomena ini juga menyimpan tantangan. Arus informasi yang terlalu cepat bisa melahirkan misinformasi, provokasi, bahkan polarisasi. Inilah mengapa literasi digital menjadi penting, agar speak up di sosial media benar-benar membawa perubahan positif.
Pada akhirnya, media sosial adalah pedang bermata dua. Ia bisa menjadi ruang perjuangan, tempat solidaritas tumbuh, sekaligus panggung edukasi publik. Namun, tanpa kebijaksanaan, ia juga bisa menjelma menjadi sumber salah paham, kebencian, dan perpecahan. Karena itu, saring sebelum sharing, pastikan informasi yang dibagikan benar adanya, dan gunakan kata-kata sebagai jembatan, bukan senjata. Dengan begitu, speak up yang kita lakukan tidak hanya lantang terdengar, tapi juga membawa manfaat nyata bagi bangsa.
Rabu, 3 September 2025 05:02 WIB
67 Pengunjung